Sepucuk Satu, Galilea

Hei…

Selamat pagi…

 

…?

Hei, hei…

Mengapa indah tanpa riang?

Pergikah telah semua kenang?

 

Mari, Sayang…

Marilah ke dekat…

 

Selamat datang, Sayang…

Sampaikan salam kepada pagi.

Kedipkan polos kepada fajar.

 

Langkah asa, ambillah harap.

Bersama embun, menetap.

Bersatu tetes, berderap.

 

Pagi, Sayangku…

Selamat pagi…

 

 

 

Hei…

Siang, Sayangku…

 

Selamat siang Yang Kekasih…

Selamat siang Yang Kucinta…

 

Hei, hei…

 

Beratkah…?

Sulitkah…?

 

Bumi ini tidak ramah, ya?

Dunia kini kejam merampas, ya?

 

Tidak apa Sayangku, tidak apa…

 

Mari, mari…

Langkahkan kaki, sambutlah lagi…

 

Alirkan saja, Aku tiada menolak.

 

Bukankah indah?

Saat hati merasa, juga sedih mengecap.

Saat jiwa terluka, ada tangis di jejak.

 

Indah, Sayangku. Indah.

 

Cantik, menawan, mempesona…

 

Biarkan, biarkan…

Air mata tanda kamu.

Air mata tanda satu.

 

Biar angin mendatang mewakil.

Lembut belai, hapus garam asin nan pedih.

 

Biar terang, hampiri menghibur.

Ingatkan Aku, ingatkan kamu…

 

Kita, bersama…

 

Lagi, Sayangku, lagi…

 

Siang benderang masih menerang.

 

 

 

Hei…

 

Selamat malam, Ceria…

Selamat malam, Bahagia…

 

Satu hari berlalu, baik petang maupun pagi.

 

Biarkan ini dan bintang mengakhir cerita.

 

Datanglah, perak bulan.

Bersama angkasa, berkunjunglah.

Terangi dia, sayangi dia.

Biarlah ia bahagia.

 

Pergilah pisau kejam!

Lenyaplah dan hilanglah!

Jangan kembali, jangan sakiti.

Biarkan dia, menenang di cinta.

 

 

Selamat malam.

Selamat malam.

 

 

Tertanda.

 

Nazaret.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s