Satu, Dua, dan seterusnya…

Suatu hari nan cerah,

datanglah Satu, wajah memerah…

 

Hampiri, dehem…

Tanyalah ia pada Dua.

“Ehm… Dua?”

 

“Satu…? Ada apa?”

 

“Eh… Tidak…
Hanya… Penasaran…”

 

“Penasaran tentang…?”

 

“Ehm… Tapi jangan marah ya?
Aku ingin tanya…
Dua, mengapa kamu lebih dariku?”

 

Diam, Dua sejenak…

Toleh…

“E… Entahlah…”

 

 

Pagi pergi menerang,

Dua pada Tiga, segera datang…!

 

“Tiga! Tiga!”

 

“Ya?”

 

“Ehm… Tadi, tadi…
Tadi Satu bertanya padaku…”

 

“…?
Tanya apa?”

 

“Dia… Dia tanya begini…
‘Dua, mengapa kamu lebih dariku?’
Aku… Aku tak mengerti! Aku tak tahu!”

 

“…”

 

“Tiga! Kenapa diam?
Apa kamu…
Tu… Tunggu…
… Tiga…
Kamu juga… Mengapa kamu lebih dariku?”

 

He… Hening…

 

“Tiga…?
Kamu… Kamu dengar, ‘kan?”

 

“I… Iya…”

 

“Terus? Kamu tahu?”

 

“A… Aku…
Ehm…
Dua, tunggu di sini sebentar ya!”

 

“L… Lho? Kamu mau ke mana?”

 

“Sebentar kok! Tunggu ya!”

 

 

Aduh!

Tak mengerti! Sama sekali!

 

Dahi kerut, lari kalut!

 

D… Di mana gerangan…

Ah!

 

Empat papas!

Tanya segera!

 

 

“Hah…?
Satu dan Dua tanya begitu?”

 

Angguk!

“Jadi? Kamu tahu jawabannya?”

 

Sejenak… Elus dagu…

Dongak… Tatap ragu…!

Aduh! Tidak juga!

 

“Baiklah! Terima kasih, Empat!”

 

 

Lagi! Lari lagi!

Tiga berlari lagi!

 

Ingin tahu! Ingin jawab!

Ta… Tapi…

 

“Apa…? Mana ku tahu!”, Lima kesal!

“Aduh! Untuk apa tanya-tanya begitu, sih!?
Buat susah saja!”, Enam lebih kesal!

 

 

Ahh…

Tak ada yang tahu…

 

Lelah putus asa, gontailah hampiri…

Tujuh Delapan Sembilan, Yang Tertua berdiri.

“Ada apa?”

 

Atur nafas, Tiga balas.

“Ta… Tadi…
Tadi Satu tanya pada Dua…
La… Lalu…
Dua lanjut padaku…”

 

Tukar pandang, rasanya…Tahu sudah.

 

“Tapi aku tak tahu jawabannya!
Lalu, lalu!
Kutanya Empat, Lima, bahkan Enam!
Tak juga mereka tahu! Semuanya bingung! Tak mau ja…”

 

Lembut, Delapan tersenyum.

“Apa pertanyaannya?”

 

Hela nafas…

“Mengapa Dua lebih dari Satu, aku lebih dari Dua, dan seterusnya?”

 

Dugaan benar, tawa keluar!

 

Heran…!

“Hei? Mengapa kalian tertawa?”

 

Buru-buru Tujuh menjawab!

“Ah, ah, Anak muda…
Kami bisa saja menjawab pertanyaan itu…
Tapi kupikir, ada yang lebih dapat menjelaskannya.”

 

“…
Siapa…?”

 

Lagi, tukar pandang penuh arti.

Sembilan.

“Pergilah temui Nol.”

 

 

Nol…?

 

Kenapa harus dia…?

 

Mereka adalah Yang Tertua!

Bijaksana dan dihormati!

Mengapa tak dapat beri jawab juga?

 

Dan…

 

Jika mereka saja tak bisa…

Memangnya Nol tahu apa?

 

 

T… Tapi…

 

Sudah kepalang tanggung…

Penasaran…

 

 

“Permisi…?”

 

“…”

 

“Permisi?”

 

“Ya! Ya! Sebentar!

Lho…?
Kamu… Tiga, ‘kan?
Ada apa?
Tumben datang kemari?
Ini bukan akhir bulan, ‘kan?”

 

“…
Ehm, iya…
A… Anu…
Aku mau…”

 

“Ah! Sampai lupa…
Masuk, masuk!
Duduk dulu, silakan!
Mau minum apa?”

 

“Ah… Tak usah repot-repot…
Aku… Tidak lama…”

 

“Hm!
Ada apa…?”

 

“Ja… Jadi begini…
Tadi pagi, Satu tanya Dua… Lalu Dua tanya padaku…
Lalu kutanya Empat, Lima, sampai Enam…!
Tak ada tahu jawabnya!
Ka… Kata Yang Tertua…
Aku harus menemuimu…”

 

“…
Mengapa Dua lebih dari satu, mengapa kamu lebih dari Dua, dan seterusnya?”

 

“I… Iya!
D… Dari mana…”

 

Seringai nakal, kembang bebas!

Cepat, tangan berkibas.

“Ah, pertanyaan lama…
Jadi…
Kenapa ingin tahu?
Kenapa menyusahkan diri?
Kenapa harus tahu?
Memangnya kenapa kalau tak tahu?”

 

Segera!

“A…!?
Tapi! Aku penasaran!
Dua menunggu jawab, Satu juga!
Tolonglah…!”

 

“Iya, iya… Tak perlu marah begitu…
Tenang!
Nah, aku akan menjawabmu.
Dengar baik, ya!
Ini singkat dan takkan kuulang lagi.”

 

“A… Apa…?”

 

Dehem….

Tawa mendadak!

 

B… Bengong…

Apa-apaan…

 

Tahan tawa! Kendali susah payah!

“Maaf! Maaf!
Aduh, selalu ingin tertawa tiap kupikirkan ini…

Hm…
Mengingatkanku pada hari-hari dulu…
Jelaskan pada Bocah Tujuh, Delapan, dan Sembilan itu…”

 

“Kau pernah mengajari mereka…?”

 

“Tentu saja! Tapi tak ada hubungannya…
Nah, Nak…
Jawabannya adalah…
Salah.”

 

A…?

“Apa maksudnya?”

 

Angkat bahu.

“Ya. pertanyaanmu salah.
Karena tidak ada yang namanya Dua lebih dari Satu. Atau kamu lebih dari Dua.
Tak lebih dari ilusi saja. Mimpi! Lamunan.”

 

K… Kernyit…

“Ap…?”

 

“Ya! Tak pernah ada yang lebih. Tak ada juga yang kurang.”

 

“Maksudnya…?”

 

“Begini, Nak…
Mudah saja kok…
Begitu mengerti dasarnya, takkan kamu kebingungan…
Nah, coba lihat keluar.

Lho? Kenapa memelototiku begitu? Lihat keluar!”

 

“…”

 

“Waktu apa sekarang?”

 

“… Sore.”

 

“Bagus. Sebelumnya apa?”

 

“…?
Apa-apaan sih?”

 

“Sudah, jawab saja! Ingin jawaban, ‘kan?
Nah, sebelum sore apa?”

 

“… Siang.”

 

“Lalu sebelumnya lagi?”

 

“Pagi.”

 

“Sebelumnya lagi?”

 

“Ma… Malam…?”

 

“Betul. Nah. Sekarang!
Setelah sore apa?”

 

“… Malam…?”

 

“Hm? Kok bisa begitu?
Padahal Malam ‘kan sebelum Pagi?
Dan Pagi itu sebelum Sore, ‘kan?
Tapi kok… Malam juga ada sesudah Sore, ya?”

 

“… A… Aku tidak…”

 

“Waktu itu berputar, Nak.
Tak bisa kamu katakan Siapa sesudah Siapa, ‘kan?
Segala sesuatu berputar.
Hidup.
Nah, begitu juga kita.”

 

“…”

 

“Satu tidak lebih kecil dari Dua.
Tujuh juga tidak lebih besar dari Empat.
Dan seterusnya…”

 

“…”

 

“Tidak ada yang lebih besar dari siapa.
Karena dalam setiap kita, ada juga mereka.
Kita dibentuk oleh mereka, mereka membentuk kita.
Kita membutuhkan mereka, takkan ada tanpa mereka.
Sebaliknya pun berlaku.
Camkan, Nak.
Tak ada Tujuh, jika tidak ada Enam.
Bahkan Sembilan pun takkan ada jika tak ada kamu, Tiga.
Jadi, tak ada yang lebih besar dari siapapun.
Karena dalam putaran ini, kita semua bergerak sama.
Berasal dari yang sama, dan berakhir pada yang sama.”

 

“…”

 

“Ada satu rahasia lagi!
Jika kita bekerja sama, takkan ada batasnya, Nak!
Kita bisa membuat yang mustahil menjadi mungkin!
Satu saja kuncinya…
Tahu posisi, dan pemahaman bahwa tak ada yang lebih dari siapapun.
Mengerti?”

 

“…
R… Rasanya… Ya…”

 

“Bagus! Sekarang kembalilah!
Ajari teman-temanmu!
Ingat! Tak ada yang lebih tak ada yang kurang!
Dan tahu posisi!”

 

“Ya! Terima kasih banyak, Nol!”

 

 

 

Kenapa dia lebih pandai dariku?

Kenapa dia lebih tampan dariku?

 

Omong kosong dan mimpi saja, Kawan!

 

Bangun! Jangan mabuk!

 

Tak ada yang lebih, tak ada yang kurang satu sama lain.

 

Tak ada dia, kamu tak bisa…

Dan tak ada kamu, dia tak bisa…

 

Untuk apa pusing dengan ambisi?

 

Cukup tahu posisi, bergandenglah sama!

 

Tembus batas, Kawan!

Tembus batas kemustahilan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s