Tembok

“Pergi!”, mereka bilang.

“Bagaimana?”, aku menjawab.

 

“Melenyaplah!”, perintah mereka.

“Mengapa?”, lagi kujawab.

 

“Menghilanglah!”, terakhir mereka.

“…”

 

Tiada sanggup ku berkata…

 

 

Dan air pun mengalir, tetapi tidak…

Dan angin pun bertiup, tetapi tidak…

 

Seluruh bumi ada dan tiada.

Berputar di poros, tak pernah berhenti…

 

Lalu mengapa? Pikirku.

 

Alam yang besar lupakan…

Laut yang besar lenyapkan…

 

Tapi tidak Anak Manusia.

 

Apa lebih bertahan dibanding mereka?

Apa lebih berkeras seperti mereka?

Semua tersimpan, rapi di urat daging kekonyolan.

Awal, akhir, sesudah.

 

Aneh, kukira.

Padahal mereka tiada abadi…

Namun pada mereka lebih dari kekal!

 

Tak punyakah kalian belas kasihan?

Tak adakah hati nurani?

 

Bukankah khianat juga saudaramu?

Bukankah salah juga darah dagingmu?

 

Mengapa tak ampuni?

Mengapa tak lupakan?

 

Seribu talenta dibayar, belum juga lunas.

Emas Sulaiman pun tak tutupi pelanggaran.

Teringat semua, lukai semua, amuki semua.

 

Sejuta maaf kau telan dan muntahkan.

Seakan jijik dengan permohonan, kau tutup binasakan.

 

Ya ampun, keluhku.

Lebih dari Yerusalem dengan raksasanya, sungguh engkau!

Bagaimana aku menerobos?

Bagaimana aku memasuki?

Raja Daud pun menyerah di pintu gerbangmu!

 

Mungkin ini salah…

Mungkin tidak begini…

 

Lalu, harus bagaimana?

 

Beritahu aku, ajarilah aku…

Kasihani aku, berilah aku jalan…

 

‘Tuk masuk, ‘tuk tiba…

Di Istana Maaf, di Puri Kasihan.

Jauh di atas Bukit Nurani.

 

Atau sukakah kamu akan lara yang lain?

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s