Kok…?

Ahh…

 

Hari yang indah!

 

Mentari emas… Seruak dedaunan seperti biasa…

Nice move, Dude!

 

Kicau para sayap mungil menjadi latar…

Melodi alam nan indah berharmoni!

 

Wuah…

Tak ketinggalan!

 

Langit dan angin pun bekerja sama…

Bergandeng tangan, gelitik goda Anak-anak Tanah!

 

Sejuk, indah, hidup…

 

Luar biasa…

 

 

Yap!

Cukup melihat-lihat!

 

Saatnya melang…

 

Hei…

Hei…!

Hei! Hei!

HEEIIIII!

 

Kok…?

Kok begini?

 

Mentari! Kenapa sembunyi?

Awan! Minggir!

 

Burung-burung? Ke mana…?

 

Angin…?

Kenapa jadi kejam?

DINGIN MENGGIGIT!

 

A… Ada apa…?

 

Hei!

Kembalilah!

Kawan-kawan!

 

 

 

 

A… Apa itu…?

 

 

S… Suara…?

 

 

Hei… Ini suara tangis!

Si… Siapa yang menangis?

 

… Hmmm…

Jangan-jangan…

 

Ini penyebabnya!

Harus kuselidiki!

 

 

 

 

Wah… Iya benar…

 

Ini suara tangis!

Lirih lagi!

 

Semakin keras… Semakin dekat…

 

 

…!

“Ka… Kamu…?”

 

“…”

 

“A… Ada apa…?
Kenapa kamu menangis?”

 

“…”

 

“Hei, hei… Sudah, sudah…
Kenapa kamu menangis…?
Kok…
Tidak biasanya…”

 

“Ba… Ba…”

 

“Ba…?”

 

“BAGAIMANA AKU TIDAK MENANGIS!?”

 

“Hei, hei… Tenang…
Ada apa?”

 

“A… Aku…
AAAAAAARRRRGHHHHHH!
SUDAHLAH!
JANGAN PEDULIKAN AKU!”

 

“… Kok…?
Kok mendadak kamu begini?
Seingatku… Kemarin…”

 

“KEMARIN? KEMARIN!?
KEMARIN APA YANG KAU MAKSUD!?
JUTAAN TAHUN YANG LALU!?”

 

“Hei, hei… Tenanglah…”

 

“TENANG! TENANG!
COBALAH TENANG SAAT KAU ADA DI POSISIKU!
DIABAIKAN, TAPI DISALAHKAN!
DISINDIR, DIHINA PULA TIAP SAAT!”

 

“Apa…?
Mana mungkin…?
Kamu ‘kan…”

 

“APA!? APA!?
AKU APA!?
MEREKA MENINGGALKANKU, TAHU!
MELUPAKAN SEOLAH TIDAK BUTUH!
TAPI BILA SUDAH KESEPIAN, MULAILAH MENCARI-CARI!
MENCARI-CARI DENGAN BODOHNYA…
LALU DI UJUNG KEGAGALAN, MENYALAHKANKU LAGI!!!”

 

“H… Hei…
Siapa yang kamu maksud?”

 

“KALIAN! KALIAN SEMUA!”

 

“…”

 

“…”

 

“…”

 

“… Ma… Maaf…”

 

“…
Tak apa-apa…
Mendengarmu sekarang… Sepertinya…
Aku mengerti…”

 

“… Benarkah?”

 

“Ya…
Dan… Kurasa, memang iya sih…
Aku pun begitu…”

 

“…
Maaf… Kata-kataku terlalu kasar…”

 

“Tidak apa-apa…
Setelah jutaan tahun terus dibegitukan, aku bahkan terkejut kamu baru melampiaskannya sekarang.”

 

“…
Hmph…
Kurasa… Arti diriku, telah menyakiti diriku sendiri…”

 

“Hei, hei…
Jangan begitu gelap!”

 

“Bagaimana tidak gelap?
Semua orang selalu sok-sok mengarang kata indah tentangku…
Tapi pada prakteknya, ke mana mereka semua?
Meninggalkanku begitu saja!
Lalu… Pada akhirnya, siapa yang disalahkan?
Aku!”

 

“…”

 

“Mereka gombal
Bicara kalau hidup ini tak ada artinya tanpa aku…
Tapi saat melangkah, kok tidak melibatkanku?
Dan nanti di ujungnya, saat mereka menyesali dan menangisi pilihan bodoh itu,
mereka takkan introspeksi…
Malah seenaknya bilang kalau Aku tidak bertanggung jawab!
Kalau aku sudah tidak ada di dunia ini!
Kalau aku sudah tidak ada hari-hari ini!
Apa-apaan?”

 

“…”

 

“Kadang…
Aku berpikir sendiri…
Termenung…
Di mana letak kesalahannya?
Aku tidak meninggalkan mereka…
Aku selalu ada, kok!
Tidak susah, ‘kan? Mencariku?”

 

“Tidak kok…”

 

“Nah! Kamu bisa!
Lalu, mengapa yang lain tidak?
Melihat dunia tanpa mengajakku…
Menjalani hidup, juga tidak membawaku…
Yaa, wajar saja kalau mereka pahit sendiri…
Ya, ‘kan?
Mungkin… Seharusnya aku pergi saja sudah!”

 

“JANGAN!”

 

“Apa?”

 

“Ma… Maaf aku lancang begitu…
Tapi…
A… Apa kamu…
Apa kamu sudah tidak percaya pada kami lagi?”

 

“Lho… Bukannya kalian yang bilang kalau aku tidak pernah ada lagi di  hari-hari ini!
Itu artinya kalian yang tidak percaya, ‘kan?”

 

“I… Iya… Tapi…”

 

“Apa?”

 

“Mo… Mohon maaf sekali lagi telah membuatmu begini…
Tapi…
Apakah tidak ada kesempatan lagi…?”

 

“…”

 

“Apakah tidak ada kesempatan lagi untuk kami…?
Kami masih membutuhkanmu!
Selalu! Sampai nanti!
Aku yakin itu!
Mereka… Hanya belum sadar…”

 

“…”

 

“Maaf sekali lagi…
Mungkin… Aku sama sekali tidak layak meminta begini…
Tapi…
Berilah kami kesempatan lagi…
Jangan pergi, kumohon?”

 

“Hm…”

 

“Ayolah!
Kami, Anak-anak Tanah mungkin memang gombal
Pintar berkata tanpa bertindak…
Tapi… Bukankah mengucapkanmu, artinya kami memikirkanmu?
Kami masih muda… Kamu yang berpengalaman…
Tolonglah… Ajari kami…”

 

“…
Ah, bukankah kalian akan mengkhianatiku lagi?
Demi nafsu daging dan pikiran busuk kalian?”

 

“Ya! Mungkin…
Bu… Bukan mungkin…
PASTI! Pasti kami akan melakukannya…”

 

“Lalu?”

 

“Tapi kami akan belajar!
Kami bisa belajar…
Tolong ajari kami…”

 

“…
Hahh…
Coba saja semuanya sepertimu…”

 

“…
Ja… Jadi?”

 

“Mana bisa aku pergi?
Tanpa kamu minta pun, aku akan memberi…
Itu sifat alamiku… Tak dapat kulawan…”

 

“Benarkah…?”

 

“Iya, iya…
Tapi berjanjilah untuk belajar!”

 

“PASTI! PASTI!
Terima kasih!”

 

“Kok…?
Aku yang seharusnya berterima kasih!
Kalau kamu tidak datang, mungkin…
Aku sungguh-sungguh akan pergi, lho…”

 

“A… Aku tidak layak…”

 

“Aduuh…
Kamu layak, kok!
Terima kasih, ya!”

 

“… Sa… Sama-sama…”

 

“Yuk… Kita mulai?
Oh ya… Maaf sudah merusak harimu, ya…”

 

“…
Justru aku bersyukur kamu merusakkannya!
Jika tidak, mungkin percakapan ini takkan terjadi!”

 

“… Hm…
Kata-kata yang bagus… Benar, benar…”

 

“Yuk…?
Ja… Jangan lepaskan, ya…”

 

“Tidak akan pernah…”

 

 

 

 

 

Ah… Cinta…

 

Cinta Kasih nama lengkapnya…

 

 

 

Kasihan, ya…

 

Tersiksa lho dia!

 

 

Tersiksa oleh ketidak percayaan!

Oleh sinisme tajam!

 

 

Ayo!

Mulai sekarang, jangan sakiti ia lagi!

 

 

 

Jangan salahkan dia saat patah hati!

Terima kasihlah karena menurutnya, orang itu bukan yang terpilih untukmu!

 

 

Jangan bilang Cinta tak ada lagi!

Dia selalu ada, kok…

 

 

Menanti…

Di sudut hati…

 

 

Tersenyum, ulurkan tangan…

 

“Mau belajar?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s