Bunga Pasir, Gajah Terbang, Kubus Putar, dan Si Pengembara

Alkisah, adalah seorang pengembara.

Orang muda bermata cerah, pintar, dan sungguh penuh dengan pengharapan.

Langkah mengayun, ia tak mengitung apapun selain waktu.

 

Tapi tak kunjung tiba juga saat akhir dari kembara yang dijalan dari sejak awal dan mula.

Mengapa?

Tidak ada yang tahu jawabnya.

Bahkan ia sendiri pun tidak menahu apa jawabnya.

Atau lebih mungkin lagi, ia sendiri pun tidak tahu apa akhirnya.

Ia hanya tahu memulai.

Tapi tiada menahu tentang apa di ujung sana.

Detik terus berlari, kadang rendengi kadang dului.

Kadang pula menjauh di sana dan tinggali.

Rumah demi rumah, pndok demi pondok, tidak ada menarik hati.

Terus berjalan, terus bergerak.

 

Barang dibawa?

Tidak ada rasanya.

Semua hambar dan tak berwarna di awal perjalanan.

Kosong, hanya bekal ingin tahu ada apa setelah ini.

 

Lalu suatu hari bertemulah ia dengan bunga di pasir.

Tumbuh bagai ajaib, tak peduli apakah ia ataupun mereka.

Tumbuh saja.

 

Lalu rasanya, satu keping teracak telah teratur.

 

Dan di hari lain, bertemulah ia dengan gajah yang terbang.

Lompat dengan ajaib, salto ke kanan lincah ke kiri.

Terbang saja.

 

Dan juga rasanya, satu lagi keping sudah teratur.

 

Berikutnya ia bertemu kubus raksasa.

Menggelinding tiada henti, baik menurun ataupun menaik.

Tidak mau masuk di lobang.

Enggan sungguh berhenti berputar.

Gerakkan saja.

 

Berikutnya juga, satu keping teratur lagi.

 

 

Dan di satu saat, pengembara muda tersadar dan berhenti di jalan.

Tatap kosongnya biarkan detik berlari kencang tanpa menoleh.

Desir angin dan gelitik itu makin memuncak, serta merta ia berbalik.

 

 

Tiada apapun.

 

Tiada jejak apapun di jalan yang ditempuh.

 

Semua susah payah lari kejar dengan detik itu tidak membekaskan apapun.

 

 

Lalu tegun, ia merenung.

 

Semua yang aku lakukan di jalan tidak merubahkan apapun.

Aspal tetap begitu.

Tanah tetap begini.

Lalu untuk apa aku berlari-lari?

 

Segera itu, putus asa sudah mengintip.

Bergerak bayang hendak merangkul, dan namun mentari tidaklah biarkan.

Cercah jatuh pada dahi lalu turun ke dada kembara muda.

 

Tersadar, ikuti.

Lalu mengerti.

 

Senyum.

 

Ya, pikirnya.

Untuk apa mencari tanda akan apa yang ia temui di jalan tadi?

Semua kemustahilan dan kejanggalan yang terjadi jua, ya terjadi saja.

Tidak ada yang berubah, semuanya tetap sama saja seperti di awal mula.

 

Hanya satu yang berubah, yaitu dirinya.

Kenangan-kenangan itu menjadi warna dan berat yang harus disimpan dalam kantong ingatan dengan kulit serut dan tali pengaman.

 

Ya, kalau begitu, untuk apa lelah-lelah berkejaran dengan waktu?

Berjalanlah saja.

Kumpulkan segala keping-keping tak teratur dan simpan baik-baik.

Semua kemustahilan dan ketidak mungkinan.

Jadikan kenangan.

 

Ini bukan pengembaraan untuk mencari akhir.

Ini adalah saat gembira untuk lengkapi koleksi.

 

Kenangan, sebanyak-banyaknya.

 

Di sepanjang jalan hidup yang penuh keanehan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s