Doa

“…”

“…”

“Mengapa diam?”

“…
Tidak ada yang harus dikatakan.”

“…
Selalu ada yang harus dikatakan.”

“…
Tidak kali ini.”

“…
Lidah tak pernah puas mencecap apa yang menjadi makanannya.
Telinga pun sama…
Takkan pernah puas…”

“Tidak ada yang harus dikatakan.”

“…
Bahkan hatimu?”

“Memang apa dengan hatiku?”

“Rumah sendiri yang dibangun di atas sauh.
Berjuang, berpenat, berpeluh.
Dan Kulihat…
Ia mengeluh.”

“Kau tidak tahu apa-apa.”

“Apa-apa itu tahu Siapa Aku.”

“Kau tidak harus peduli akan aku.
Bukankah tertarik Engkau pada mereka yang berjalan lurus?
Aku bukan.”

“Banyak jalan yang disangka orang lurus, namun akhirnya menuju maut.”

“Aku percuma.”

“Aku tak sependapat.”

“Mereka sependapat.”

“Mereka bukan Aku.”

“Ia sependapat.”

“…”

“Ya. Kau pun setuju akan itu, ya?
Kalian serupa sekali.
Semuanya salahku, bukan?
Sudah cukup.
Aku tidak butuh apapun lagi.”

“Ia, bukanlah Aku.”

“Tapi… Tapi ia berkata begitu…
Dan… Oh, jangan berpura-pura…
Kalian semua berpikir begitu.
Aku merusak, aku tahu.
Aku penghancur, aku tahu.
Jangan tatap aku seperti itu.”

“…
Apa yang kau hancurkan?
Apa yang kau rusakkan?”

“Segala sesuatu yang mereka kata, Engkau pinta untuk dijaga.”

“Dan kau rusakkan itu semua?”

“Begitulah menurut mereka.
Dan aku juga tahu aku membuatnya.”

“Boleh kulihat apa yang kau rusak itu?”

“Kau lihat?
Mana bisa…
Ia yang punya, bukan aku.
Tanyalah dia saja.”

“Cakap-Ku adalah dengan engkau.”

“Aku tak tahu.
Bukankah Kau yang selalu tahu?
Aku merusakkan hatinya.
Mungkin hidupnya.
Entahlah.
Mereka dan dia sepakat dalam hal itu, setidaknya.”

“Sepakat bahwa…?”

“Bahwa aku menghancurkan semuanya.
Aku menghancurkan dia.
Menghamburkan pengorbanannya.
Ratu kubuat bagaikan budak.
Aku…
Brengsek…”

“Lalu?”

“Tidak tahu.”

“Apa yang di tanganmu itu?”

“Tidak ada.”

“Kosong?”

“Ya.”

“Bagus.”

“Bagus apa?”

“Tangan lubang ini semuanya milikmu.”

“Tapi aku merusakkan semuanya.”

“Apa yang di belakangmu itu?”

“…”

“Lihatlah ke belakang.
Ada apa di belakangmu itu?”

“Aku tidak mau.”

“Lihatlah.”

“Tidak mau.”

“Menyakitkan?”

“… Ya.”

“Bagus.”

“Bagus apa?”

“Kini melihatlah ke depan.”

“Tapi aku menghancurkan segalanya.”

“Apa yang ada di sampingmu itu?”

“…”

“… Apa yang ada di sampingmu itu?”

“…
Tidak ada.”

“Lihatlah lagi.”

“…”

“Ayo… Lihat.”

“…”

“Aku. Dan saudara-saudaramu.”

“…
Tapi aku menghancurkan segalanya…”

“…
Apa yang ada di wajahmu itu?”

“…”

“…
Jangan menangis.”

“…”

“Jangan menangis di sini saja.
Menangislah juga di sana.
Menangislah juga di waktu .
Di manapun, tidak apa-apa.
Aku di sini.”

“…
Tapi… Aku menghancurkan segalanya…”

“Aku mengasihi dan membuatmu.”

“Tapi aku… Menghancurkan…”

“Tidak ada yang hancur.
Tidak ada yang rusak.
Tidak akan Kubiarkan hancur.
Tidak akan Kubiarkan rusak.”

“Tapi… Ia sudah…”

“Aku masih di sini.”

“Aku sendirian.”

“Kami masih di sini.”

“Ia… Sudah peluk yang lain…”

“Kami selalu di sini.”

“Aku… Mengacaukan semuanya…”

“Aku perbaiki segalanya.”

“Aku tersesat.”

“Akan Kucari.”

“Aku tersepi.”

“Aku datangi.”

“Aku…
Tiada berharga…
Ia juga kata begitu.
Ia juga tinggalkan begitu…
Tentu saja…
Berarti…
Aku tiada harganya…”

“Akan Kubeli.”

“…”

“Akan Kujaga.”

“…”

“Akan Kukejar.”

“…”

“Akan Kupeluk.”

“… Mengapa…?”

“Karena Aku lah Aku.
Dan kamu lah kamu.”

“Tapi aku… Dia…”

“Aku di sini.”

 

 

— Cukup —

 

“…”

“Ada permintaan untuk-Ku?”

“… A… da…”

“Katakanlah.”

“…
Aku…
Mohon agar ia bahagia.
Agar ia bahagia…
Agar ia bahagia…
Agar ia…
Bahagia…”

“…”

“Buatlah ia bahagia…
Dan jagalah ia…
Untukku.”

“Amin.”

 

— Doa —

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s