Perenungan Modem Wi-Fi

Kelap kelip.

Kelap kelip dan kelap kelip.

Hijau kekuningan , dan kadang kala putih di sudut mata.

Hm…

 

Denyut jantung, bagi apa yang dikenal dengan penglihatan dan persepsi.

Kadang-kadang melambat, tapi sering pula ia bergegas.

Memang berbeda-beda, namun serupa selalu.

Ritme kembar yang identik dengan denyut para manusia.

 

 

Ritme…

 

Manusia menginginkan ritme yang konstan.

Detak yang stabil dan seimbang.

Tidak tergoyahkan dalam dentum sekeras apapun yang dilempar padanya.

Penurunan dianggap dosa, kenaikan dianggap tak dewasa.

 

 

Konstan…

 

Mengapa manusia menginginkan apa yang konstan?

Belajar dari mana mereka?

 

Kestabilan tidak pernah ada dalam siklus hidup benda apapun.

Dari ada sampai tiada, semua tidak pernah tahu kediaman.

Bergerak terus, bergolak menerus.

 

 

Tunggu,  bukankah itu juga disebut konstan?

Semua itu dengan stabil dan konsisten selalu merubah ritmenya.

Bukankah itu berarti mereka memiliki ketidak samaan ritme yang konstan?

Perubahan detak yang selalu sama dengan siklus-siklus sebelumnya.

 

Lalu mengapa manusia membenci perubahan?

Mereka ingin kestabilan, tapi membenci perubahan.

Tanpa menyadari perubahan itupun terjadi secara stabil.

 

Hm…

 

Jadi apa yang sebenarnya diinginkan manusia?

Bukan kestabilan.

Bukan konsistensi.

 

Tapi kesamaan.

Kepastian.

Jaminan.

 

Manusia ingin detik terus berdetak, namun tak mau detik itu beranjak melaju.

 

Hahaha…

 

Konyol betul manusia ini…

Termasuk ia yang menggerakkan hati untuk menyelidiki ini.

 

 

Tapi tetap saja, mengapa manusia menginginkan itu semua?

Belajar dari mana mereka?

 

Seumur hidup, dari segala nafas yang mungkin mereka ingat,

mana ada yang namanya kepastian.

 

Pertumbuhan saja pun sudah merupakan perubahan.

Jadi di mana mereka mempelajari semua ini?

 

Dan mengapa sumber belajar itu menghilang sedemikian rupa,
sehingga manusia terjebak sendiri mengejar detak kepastian yang tidak pernah ada?

 

 

Ada satu yang mungkin bisa menjawabnya.

 

Orang ini tidak berbeda dari mereka yang menginginkan semuanya tidak berubah.

Tidak berasal dari planet lain.

Ia manusia juga.

 

Namun ia telah merasakan apa yang tidak akan berubah.

 

 

Ia menyaksikan detak cepat Ia yang bergegas mengejar Zakheus.

Juga ia menonton detak lambat Ia dalam penantian tenang di pesta di Kana.

 

Tapi dalam semuanya itu, Ia tidak berubah.

Tetap begitu.

Dari dulu, sekarang, hingga selamanya.

 

 

Rupanya Ia lah yang memperkenalkan konsep kepastian pada manusia.

Dan Ia juga yang menggoncang manusia pada kenyamanan yang telah mereka peroleh.

 

Tujuannya, seperti telah dijelaskan oleh saksi bernama Yohanes ini, adalah karena Ia mengasihi manusia.

 

Bingung? Begini.

 

Manusia ingin agar segala sesuatu tidak berubah, sehingga mereka sangat membenci perubahan.

Beberapa memang dapat beradaptasi, namun tetap saja, dalam hati mereka selalu menginginkan tempat yang tetap.

Di mana segala sesuatu tinggal pasti.

 

 

Tapi masalahnya, adalah waktu.

 

Jika segala sesuatu tinggal tetap sekarang, manusia akan berakhir lebih buruk dari sebelumnya.

Pribadi yang Tak Berubah itu sudah sempurna.

Sehingga Ia terus merangsang manusia untuk mengejar kesempurnaan yang sama.

 

Menggugah manusia untuk beranjak dari kepompong satu kepada kepompong lainnya.

Demi wujud sempurna, demi utopia sempurna, yang Ia sediakan bagi mereka semua.

 

Itulah wujud Kasih.

 

Takkan berhenti hingga yang dikasihi-Nya merasakan apa yang Ia rasakan.

 

 

Kesimpulannya?

 

Apa yang kita semua rindukan itu ada.

Keadaan tak tergoyahkan di mana takkan ada lagi yang berubah.

Di mana takkan ada lagi pagi ngeri di mana kita bangun dan berdegup akan apa yang baru.

Di mana takkan ada lagi keluh kesah karena tak ada akhir yang terlihat sejauh mata.

 

Kestabilan yang kita rindukan itu ada.

 

Ada pada ujung Kasih yang senantiasa mengulurkan tangan.

 

Dan satu janji-Nya.

 

Dalam segala perubahan dan terpaan badai yang secara konstan terus mendera hidup kita…

 

Ia…

“Tidak berubah. Baik dahulu, sekarang, dan selamanya.”

“Ada di antara kita.”

“Memberi kelegaan pada kita.”

“Telah mengalahkan dunia.”

 

Perkenalkan inti dari renungan.

Sumber dari segala kerinduan dan kepastian hidup.

 

Yesus Kristus Nama-Nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s