Manusia Plastik

Ahh… Mari periksa…

 

Bekal? Sudah.

Pakaian? Sudah.

 

Hm… Apa lagi ya…

 

Ah, sudahlah… Cukup!

Ayo, jangan tunda lagi!

 

Mari berangkat!!!

 

 

 

Mm hmm~ Mm hmm~

 

Hari yang indah untuk mulai berjalan!

Cerah mentari, sepoi menari…

Kicau lembut, langsung menyambut…

 

Eh…

Wah! Ada orang terpapas!

 

 

“Ahoy! Hari yang indah, ya Kawan?”

 

 

Senyum lebar! Angguk!

“Ya!”

 

 

Deret bersih, gigi putih.

Hampir dekat, jabat ulur.

“Hendak ke mana sepagi ini?”

 

 

Balas jabat, angkat bahu.

 

 

Tatap semasa, mengerti ia.

“Ahh… Pejalan juga, ya?
Mari, mari kalau begitu!
Kita bisa berjalan bersama.”

 

 

Wah! Mimpi apa aku semalam?

Terima kasih, Tuhan!

Kau kirimkan daku sahabat!

 

 

 

“Sudah makan?”

 

Toleh, dan…

Uhm… Jawab apa ya…

“S… Sudah…”

 

Decak ia!

“Ck! Jangan malu-malu denganku!
Sudah! Ini rotiku… Makanlah!”

 

Ulur… Ta… Tatap…

 

“Lho, kok diam?
Ambil! Cepat!
Pegal sekali menunggumu, tahu!”

 

Senyum, cepat-cepat saja!

“Terima kasih!”

 

Seringai.

“Ya, sama-sama… Mari makan!”

 

Kunyah, tatap lagi…

“Uhm, maaf… Tapi…
Aku belum tahu namamu?”

 

Telan, jawab saja segera!

“Ah! Sampai lupa…
Kenalkan… Aku Peduli.
Kau?”

 

Senyum.

“Peduli?
Aku… Manusia.”

 

 

 

 

“Jadi, Manusia?
Hendak ke mana engkau?”

 

Pikir sejenak…

“Hm… Tak tahu…
Aku hanya ingin berjalan saja…
Ke mana angin bertiup, ke sana aku menuju…”

 

Hening…

“Begitu ya…?”

 

“Bagaimana denganmu?”

 

Diam, Peduli toleh. Senyum masih.

“Aku ingin menemanimu.”

 

 

 

Wah…

Sungguh luar biasa…

Siapa sangka?

Perjalanan ini jauh! Sangat jauh!

Dan dari apa yang kudengar, berbahaya!

 

Hm…

Seorang kawan seperjalanan, takkan menyakitkan…

… ‘kan?

 

 

 

 

“Wah, Manusia… Sebaiknya kita istirahat dulu…
Lihat, di situ ada goa…
Aku akan pergi cari kayu…
Kau duduklah, luruskan tubuhmu…”

 

“Terima kasih, Peduli.”

 

“Ah, ini bukan apa-apa…
Aku segera kembali!”

 

“Hati-hati!”

 

 

Ahh… Baiklah…

Hari pertama terlewat sudah…

Cukup melelahkan, tapi…

 

Jangan…’

 

… Hm?

Siapa itu…?

 

Jangan…’

 

… Ini… Apa-apaan…?

J… Jangan-jangan…

H… H… Hantu!?

 

Jangan…’

 

A… Astaga…

Ini sungguh berhantu!

Cepat! Cepat!

Harus pergi…!

 

Jangan percaya
Atau kecewa…’

 

A… Apa katanya…?

 

Jangan percayaAtau kecewa…’

 

Ap…

 

 

“Aku kembali!”

LONJAK! KEJUT TERSANGAT!

Ta… Tatap…

 

Heran.

“Ada apa denganmu?”

 

D… Dingin keringat…

“T… Tidak…”

 

 

 

Jangan…’

 

S… Suara itu…!

Pe… Pergilah…!

 

Jangan…’

 

Pergi! Pergi!

 

Jang…’

 

“PERGIIIIIIII!!!”

Sengal… Buram… Ke terang…!

 

Wajah khawatir tunduk menerang…

“Ada apa, Manusia?
Mimpi buruk…?”

 

Kedip… Kedip… Seka…

“Bukan apa-apa…”

 

Tak percaya, jelas…

“Apa kau…”

 

Potong cepat!

“Ah, sudah siang rupanya, ya?
Mari kita berangkat?”

 

Pandang, balik, dan muram…

Geleng pelan.

“Kelihatannya kita takkan pergi ke mana-mana untuk sementara ini.”

 

“Ap… Apa…?
Mengapa?”

 

Tunjuk kurus angkat kelabu.

“Awan tebal… Kelihatannya akan ada badai.”

 

“B… Badai…?
Lalu…”

 

Cepat, ramah kembali.

“Tapi, tenang saja, Kawan!
Takkan lama kok…
Hm… Oh ya…
Persediaan makanan kita sudah habis.
Aku akan pergi berburu sebentar, ya?
Tunggu saja di sini.”

 

“Tidak!”

 

Henti, kerut.

“…?”

 

Degup!

“J… Jangan tinggalkan aku sendiri!”

 

Hela nafas, tepuk pelan.

“Takkan lama, Kawan.
Jika aku tak pergi, kita akan mati kelaparan!
Dan jika kau ikut denganku, siapa yang menjaga barang?
Tenanglah…
Aku akan kembali.”

 

“Ja…”

 

Terbawa angin, terbawa debu…

Ucaplah mengiring bayang…

Bangun, derap…

 

 

 

 

Ketuk, ketuk, ketuk…

Gelisah batu atas tunjuk!

 

Aduh, aduh…

Ke mana gerangan?

Lama nian!

 

Aduh… Peduli…!

Cepat kembali!

S… Sebelum…

 

Jangan…’

 

S… Sial…

 

Dengarkan akuJangan, jangan berharap!
Atau…’

 

“DIAM SIALAN!
BERHENTI MENAKUTIKU!
TUNJUKKAN DIRIMU KALAU BERANI!!!”

 

… Hening…

Y… Ya…

Sudah kuduga…

Itu hanya dalam kepala…

 

 

A… Apa itu…!?

…!

DARI BAYANG! DARI GELAP!

MU… MUNCUL…!!!

“A… AAAAAAAAAAAAA!!!!”

 

Decak dingin, serak basah!

“Ck… Diamlah…
Teriakanmu seperti gadis kecil saja…”

 

“S… Siapa… Siapa kau!?
Jangan mendekat!
JANGAN MENDEKAT!!!”

 

Tak hirau, tahan silau.

“Sudah lama tidak kulihat matahari…”

Tak peduli, duduk di hadap.

“… Siapa namamu?”

 

“…”

 

Putar bola mata.

“Ah, jawab saja!
Aku tak ingin berlama-lama di sini.
Aku tidak membutuhkanmu!
Kau yang memerlukanku.
Sekarang, jawab aku.
Siapa namamu?”

 

“… M… Manusia…”

 

Elus dagu, kuku janggut, hitam serupa…

Seringai.

“Manusia, ya?
Nama yang bagus…”

 

“S… Siapa kau!?Apa yang kau inginkan…!?”

 

“Ah… Yang kuinginkan?
Tidak sulit, kok…
Yang kuinginkan, adalah yang kau inginkan juga…
Akhir.”

 

 

“Akhir?”

 

Seringai! Lebar!

Deret ngeri terpahat zaman!

“YA! AKHIR!
Akhir dari perjalanan tiada ujung ini!
Akhir dari siksaan terkutuk bernama rasa penasaran!
Akhir dari derita…
Yang s’lalu sertai s’panjang jalan ini…”

 

O… Orang ini…

Pucat pasi, sekujur s’mua…

Gemetar, lemah…

Sengal, putus…

Merah, kedip…

 

Dia…

 

Sekarat…

 

 

Seolah tahu, seringai!

“Ya. Aku sekarat.
Dan kau juga akan seperti aku.”

Hela berat, pandang melamun…

“Sendirian… Tersiksa…
Gelap… Mati pun lebih baik…”

 

“Ti… Tidak!”

 

“Tak ada yang datang, tak ada yang mau…
Lebih rendah dari sampah!
Hewan pun jijik padamu.”

 

“TIDAK!”

 

“DAN SEMUA ITU, KARENA KAU PERCAYA PADA BUALAN SI SETAN ITU!
KARENA KAU PERCAYA DENGAN BODOHNYA PADA PEDULI!!!”

 

A… Apa…?

 

Dengus.

“Huh, kau pikir kau yang pertama?
Kau tidak spesial, Kawan…
Dialah yang spesial…
Pemangsa terbaik, paling berbahaya!”

 

 

“Hmph, aku berani bertaruh…
Sama saja denganku, ‘kan?
Papas seolah sengaja, tawarkan makanan, jalan bersama, basa basi…
Sampai…”

 

A… Apa…?

Apa…?

“Sampai apa!?”

 

Seringai… Lagi…

“Sampai di sini, sekarang…
Ia pergi meninggalkanmu…”

 

“Tidak mungkin!”

 

Angkat bahu.

“Ya, coba saja.
Teruslah pikirkan itu sampai kau sepertiku.
Kering oleh harapan.
Tertipu janji Sang Teman.”

 

Lelah, bangkit ia!

 

“TUNGGU! HENDAK KE MANA…!?”

 

Lambai, tak acuh.

“Setidaknya, aku ingin mati sendirian.
Lebih tenang, Kawan…”

 

 

 

 

Ketuk…

Ketuk…

 

Si… Sial!

Tidak! Tidak!

Ia sudah berjanji akan kembali!

Pasti kembali!

 

T… Tapi…

Jika tidak…

 

A…

Ah!

Sudahlah!

Ayo! Berangkat!

 

Sendiri? Tak apa!

Dari awal juga begitu…

 

Salahku saja…

Berharap lebih…

 

“WUAH!”

D… Duduk…

Sakit…

Do… ngak…

 

“Kawan? Sedang apa kau?
Kok…”

 

P… P…

“PEDULI!!!”

 

 

 

 

Angguk, angguk…

Kunyah menikmat, dengar hingga tamat.

“Begitu ya?”

 

“… Ya…
Itu… Dia… Siapa sebenarnya?
Benarkah… Benarkah kau…”

 

Henti, sejenak.

“Manusia… Ada sesuatu yang perlu kau ketahui…
Tentang aku dan dia.”

 

Buang tulang, tegak duduk.

“Pertama, yang kau temui tadi itu, namanya adalah Manusia.”

 

…?

“Bagaimana mungkin…?”

 

Angguk.

“Apa katanya betul.
Kau bukan yang pertama.
Bukan Manusia pertama yang melalui jalan ini.
Dan yang pasti, bukan Manusia pertama yang kutemui.”

 

“L… Lalu…
Kau sungguh meninggalkannya?”

 

Geleng.

“Tidak. Aku tak pernah meninggalkannya.
Ia tidak bercerita penuh, ya?
Aku kembali, kok…
Tepat waktu, sama seperti waktu aku kembali padamu.”

 

“Lalu… Mengapa ia…”

 

Muram, Peduli menjawab.

“Selama masa kepergianku, ia memahit.
Sakit hati, sendiri, merasa ditinggalkan.
Ia telanjur terpenjara.
Sekembalinya aku pun, tak ada yang bisa kulakukan…
Itu pilihannya…”

 

“…”

 

Senyum, tepuk bahu.

“Istirahatlah, besok kita lanjutkan perjalanan.”

 

 

 

 

Hari ini, kupelajari sesuatu…

 

Benar, Manusia datang sendiri.

Jalan sendiri, lari sendiri, jatuh sendiri…

 

Sampai satu kali…

Tidak mungkin tidak, datang seorang…

Peduli, menemani…

 

Akan tetapi, tidak lah dipungkiri…

Peduli tak bisa t’rus di sisi…

Satu saat, mungkin ia pergi…

Meski, pasti kembali!

 

Tugas Manusia mudah…

Tunggu saja, percaya saja…

 

Jaga hati, jangan selubungi…

 

Kar’na Peduli, pasti kembali…

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s