Akar dan Daun

Alkisah di hutan belantara, adalah satu tunas muda.

 

Senyum dan gurat daun…

Tulang dan air, tumbuh bertahun…

 

Bersama siang, riang…

Beserta dirus, terus!

 

Tak ada yang salah, tiada yang parah…

Semua baik, dan menyenangkan…

 

Sampai…

Hari itu datang.

 

Sang Muda tak lagi sama.

 

Kuat ia sekarang, hijau dan teduh.

 

T… Tapi…

Beda…

 

Semua tahu! Semua sadar…

 

Siang datang, tak lagi riang…

Hujan ada, tiada lagi canda…

 

Aneh…

 

Ada apa?

 

 

Angin lewat, penasaran sangat.

“Hei, Muda?”

 

Lesu, dongak ia.

“Hei, Angin.”

 

Kerut, tanya.

“Kenapa kau ini, Muda?”

 

Hela, lelah.

“Aku bingung, Angin.”

 

“Bingung kenapa?”

 

Tatap. Memelas.

“Kenapa…
Kenapa aku tak bisa setinggi mereka?
Kenapa aku tak bisa sebesar mereka?
Aku di sini lebih lama dari mereka!
Tapi… Tapi…
Kok mereka bisa melebihiku?”

 

… Angin…

Tak tahu harus apa…

“Ehm…”

 

“Kenapa? Apa… Apa aku memang tidak sehebat mereka?”

 

Dehem.

“Ehm, dengar, Muda.
Sudahlah, kenapa kau mengkhawatirkan hal semacam itu?
Setiap makhluk punya sesuatu yang bisa ia lakukan dan tidak bisa ia lakukan.
Berpuas dirilah dengan dirimu, Kawan.”

 

“T… Tapi…”

 

“Sudah ya? Aku harus pergi.
Selamat tinggal!”

 

 

Hm…

 

Belum…

Nasehat Angin belum membuat Muda kembali!

 

Hah…

Baik, mungkin kurang tepat?

 

 

Selanjutnya, adalah Perkasa!

Sang Siang! Sang Terik!

 

Matahari keemasan, datang.

“Ada apa, Muda? Kenapa murung?”

 

Hela lagi. Lelah.

“Matahari. Kenapa aku tak bisa seperti mereka?
Kenapa aku tidak…”

 

Bijak, potong.

“Ah, itu rupanya.
Kukira apa. Dengarlah, Muda.
Kau tidak seharusnya memikirkan hal-hal itu!
Itu sih, masalah kecil!
Kau tak pantas murung…
Maksudku, lihatlah aku!
Harus berjalan, memutari Dunia.
Adil, bagi hangat dan terang.
Jika kau sudah bekerja sekeras aku, barulah kau mungkin bisa merasa lelah!
Sementara, dengan keadaanmu sekarang, sih…”

 

Tidak…

 

Sama sekali tidak membantu…

 

 

Pagi… Malam…

Pagi… Malam…

 

Tak kunjung ia tenteram…

 

 

Hela nafas, Tertua datang.

Sang Tanah. Sang Bumi.

“Anakku, ada apa?”

 

Tunduk. Tangis…

“B… Bumi…
Bumi…”

 

“Hei, hei…
Sshh… Sshh… Kenapa kamu, Nak?”

 

“Aku… Aku kesal!
Kenapa tak ada satupun mengerti!?
Aku hanya ingin penjelasan, kenapa aku tidak bisa sehebat pohon-pohon lain!
Angin bilang, mungkin sudah takdirmu…
Matahari bilang, masalah sekecil ini sih tak perlu dirisaukan…
Tapi! Tapi!”

 

“Sshh… Sshh…
Sudah, sudah… Jangan terlalu pikirkan ucapan mereka, ya?
Oh iya… Ngomong-ngomong…
Nak, kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?”

 

Seka mata.

“Li… Lihat saja, mereka, Bumi!
Jauh tinggi! Menyentuh langit!
Sementara… Aku…
Bayang-bayang saja…”

 

Senyum, mengertilah.

“Sshh… Sudah, sudah…
Jangan menangis lagi, ya?
Tenanglah, dan aku akan menjawabmu.”

 

“Jawab apa…?”

 

Lembut, belai.

“Anakku. Mereka terlihat tinggi karena kamu melihat pucuknya.
Kamu harus melihat mereka secara keseluruhan, dong.
Coba, lihat lagi baik-baik.
Kamu akan tahu, mengapa kamu tidak perlu menangis.”

 

“Apa maksud…”

 

“Sshh… Lihat lagi. Keseluruhan.”

 

“A… Apa…?”

 

“Anakku, mungkin letak pucuk mereka memang lebih tinggi darimu.
Tapi satu yang harus kamu ingat, akar mereka berpijak di tempat yang sama sepertimu!
Kalian satu tingkat, kok!
Mengapa harus meributkan siapa yang lebih tinggi?
Bukankah kalian semua ada di atas tanah?
Kaki kalian sama, ‘kan?
Jadi…? Apa bedanya?”

 

 

“Mulai sekarang, jangan membandingkan dirimu dengan mereka.
Ingat-ingat saja. Kalian dasarnya sama kok.
Sama-sama tumbuh dari tanah.
Nah, sisanya, barulah kamu masukkan nasehat-nasehat Angin dan Matahari.
Kamu punya sesuatu yang mereka tak miliki, karena itu, tak perlu menangisi masalah sekecil ini.
Oke?”

 

“… Terima… Kasih…”

 

 

Dan kini!

 

Teguh pijaki bumi, riang tatapi langit!

Tumbuh, tumbuh, tumbuhlah!

 

Tapi satu tak pernah Muda lupakan…

 

Setinggi apapun ia…

Tetap saja, akarnya sama…

 

Dalam tanah, tak terlihat.

 

Dasar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s