Melekat

Mazmur 91:14 ( TB )

“Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku.”

 

Cinta itu apa?

Kata benda? Kata sifat? Kata kerja?
Suatu emosi? Ekspresi? Atau empati?

Api kah ia? Atau air?
Bebaskah ia? Atau terikat?

 

Satu kata yang diciptakan untuk menggambarkan segala hal indah yang pernah dunia ini lihat.

Alunan warna-warni terbaik yang teruntai indah di dalam satu helaan nafas nurani.

Anugerah terbaik, pemberian tersuci.

Tidak terkalahkan.

Senjata terampuh.

 

 

Cinta itu di mana adanya?

 

Di pikirankah? Atau pada kenangan?

Pada masa lalu kah atau masa kini ia menujukan pandangan?

 

Apakah ia jauh di sana di masa depan?

 

Di lautkah? Atau di permukaan?

Di langitkah? Atau di angkasa?

Bercahayakah? Atau justru di mana-mana?

 

Keabstrakan terbaku yang pernah ada.

Karena semua orang tahu cinta, tapi takkan ada yang bisa menggambarkannya.

 

Namun Daud mengerti.

 

Ia mengerti sekelumit hal yang terinti dari detak Sang Cinta.

 

Daud, Sang Pujangga mengerti bahwa…

 

Cinta itu hidup.

Cinta itu bertumbuh.

 

Cinta itu…

Pilihan.

 

 

Raja Dinasti Israel itu memutuskan untuk memasang tali kokoh pada cinta.

Sang gembala dari Efrata memilih untuk menunggangi dan mengendalikan cinta.

Cinta siapa?
Cintanya.

Diarahkan pada siapa?
Pada Yang Merebut Hatinya.

 

 

Semenjak muda penuh bahaya di tengah padang gurun Bethlehem.

Dari dingin menusuk tulang yang diajarkan kekerasan padang belantara.

Putera Isai telah menggerakkan jarinya untuk memetik dan membelai cinta di hati.

 

Dan tujuannya hanya satu.

Sedari dulu hanya satu.

 

TUHAN Allah Abraham, Ishak, dan Yakub.

Sang Penjaga Israel yang ia temui di malam terkelam.

 

Dari antara tirai air mata dan penolakan Daud melihat-Nya.

 

 

Sang Benteng Hidup yang Takkan Pernah Goyah.

Yang ia sadari kehadiran-Nya di antara taring dan cakar pencari mangsa.

Dan semenjak saat itu, tidak pernah matanya beralih.

 

Dari padang gurun Yudea ke Lembah Raksasa Ayalon.

Dari kaki muda terbakar mentari hingga pelana kuda tempur tergagah.

Dari istana Saul hingga Goa Adulam.

Mata dan hatinya selalu terpikat pada Satu Pribadi yang ternyata, selalu ada saat ia terjaga maupun tidur.

Ke manapun Daud pergi, hati mungilnya selalu menemukan kehadiran Allah di sana.

 

Hebat?

Tidak. Itu logis sekali.

 

Daud tergila-gila pada Tuhan.

 

Ia menjinakkan kuda ganas dari Tanah Terhasrat dan menungganginya untuk mengejar Tuhan.

 

Detik ia menutup mata dan menikmati malam, ia menemukan bahwa Tuhan mengasihinya pada waktu tidur.

Gelisah, bangun ia segera dan mengatur persembahan.

Gemetar, namun berani.

Daud melibatkan Kekasihnya di segala kesempatan.

 

Satu-satunya orang yang membalas perhatian Tuhan sedemikian rupa di zaman itu.

Tidak terpaku pada mezbah atau aturan, bagi Daud, Allah adalah dunianya.

 

Di setiap milidetik dan gravitasi yang menariknya, ada Tuhan di sana.

Hasrat yang melebihi perasaan ajaib Daud pada istri-istri dan sahabatnya Yonatan.

 

 

Dan akibatnya, Tuhan tersenyum.

Ia merasakan Daud di tengkuk-Nya, ke manapun Ia pergi.

 

Daud… melekat pada Tuhan.

David… had set his love upon God.

 

 

Bukankah itu indah sekali?

 

Bayangkan merasakan apa yang Tuhan rasakan.

Bayangkan mengerti apa yang Tuhan pikirkan.

 

Kita selalu berdoa meminta kehendak Tuhan, tapi tetap membiarkan cinta kita bermain-main liar di ladang tak bertuan.

 

Tidak berusaha mencintai Tuhan.

 

 

Dan berhenti berbohong.

 

Cinta bukan sesuatu yang murah sehingga bisa ditopengi oleh ritual.

Cinta itu murni dan tak bersilsilah.

Ia ada sebelum segala hal ada.

 

Untuk menemuinya, datangi tempat tergelapmu.

Ia ada di sana.

 

Oh ya.

Love is found in the hopeless places.

 

Dalam kesengsaraan dan kesendirian, engkau dapat menemukannya dengan mudah.

Bagi Daud, kisah cintanya bermula di taring singa dan Goa Adulam.

 

Mulailah kisahmu sendiri.

 

Temui, dan jinakkan ia.

Lalu tunggangilah ia menyongsong mentari.

Menuju Kerajaan Tak Berkesudahan.

 

Demi bertemu dan memeluk Pribadi…

Yang sudah memelukmu sedari dulu.

 

Tuhan berkati.

 

Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s