Karena Aku

Di tanah suatu pagi.

Desir angin turun menyapa pasir.

Laut, danau, dan air berkumpul menyatu.
Berjalan, susuri.

Musik, serasa bagi.

Matahari, menerbit.

Lalu di sana, di ranah kristal-kristal biru berlari bergulung,

duduklah Ia mengangguk meneguk.

Seakan dan benar, tahu kata cerita sang ombak.

 

Mendekat, dan tegun.

Rasa-rasanya aku kenal jubah itu…

 

“Duduklah.”

 

“…
Uhm… Apa?”

 

Balik, kedik ceria.

Tepuk.

“Duduklah di sini.”

 

Canggung, jaga jarak.

 

Tawa.

“Aku tidak menggigit.”

 

Ragu.

“Uhm… Apa yang Kau lakukan di sini?”

 

Tak toleh.

“Mengenang.”

 

“Mengenang?”

 

Kini, toleh.

“Ya. Mengenang.”

 

Dari kata, aku menarik.

“Mengenang masa lalu?”

 

Lebar.

“Yah, semacam itu.”

Lalu, kembali lagi.

Pancang pada biru.

 

Telan ludah, pikir dan pikir.

Kesempatan emas ini takkan ada lagi!

Namun berartikah aku lakukan yang begini?

 

“Katakanlah.”

 

“Katakan… Apa?”

 

Lagi, toleh.

“Katakanlah isi hatimu.
Kau benar. Aku menghargai orang yang menghormati kesempatan.”

 

Tegun…

 

“Lalu? Yang hendak kau katakan?”

 

Sejenak, lalu…

“Aku… Selalu ingin tahu…
Bagaimana… Bagaimana rasanya…
Untuk…
Yah… Melakukan yang Engkau lakukan…”

 

“Aku melakukan banyak hal.
Rasa mana yang menggelitikmu?”

 

“… Uhm…
Aku…
Ah… Bagaimana rasanya…
Datang ke mari setelah semua itu?”

 

“Setelah semua itu?”

 

“Yah, Kau tahu…
Kau datang ke tempat di mana Kau memberi paling banyak.
Dan tempat yang sama, di mana Engkau dilecehkan paling banyak.
Bagaimana rasanya?”

 

Tanpa ragu.

“Oh, rasanya menyenangkan.”

 

… Tatap…

“Mengapa demikian?”

 

Balas.

“Karena Aku adalah Aku.”

 

“Aku selalu ingin tahu…
Apa yang Kau lihat… Dari mereka?”

 

“Siapa?”

 

“Yah… Mungkin sebaiknya aku menyebutkan nama saja satu per satu?”

 

“Ya. Mungkin sebaiknya demikian.”

 

“…
Apa yang Kau lihat dari Adam?”

 

“…
Anak terbaik, yang buktikan kebaikannya sampai di akhir hayat.”

 

Tercengang.

Tersadar.

“Ah… Ba… Baik…
Bagaimana dengan Kain?”

 

“Anak luar biasa. Yang bangkit dari salahnya sendiri.”

 

“…
Abraham?”

 

“Anak yang hebat. Yang bangkit dari jatuhnya sendiri.”

 

“…”

 

“Kau tidak setuju?”

 

“Tidak. Tapi aku percaya Kau punya alasan.”

 

“Baik sekali.”

 

“Baiklah. Bagaimana dengan…
Yudas?”

 

Tenang, tatapi.

“Ada apa dengan Yudas?”

 

“Dalam kisah-Mu, dialah musuh terbesar-Mu, bukan?”

 

“Kisah siapa?”

 

“Kisah-Mu.”

 

“Musuh siapa?”

 

“Musuh… Musuh-Mu!
Ia menjual-Mu, bukan?
Orang yang Kau pilih dan percaya, ia menjual-Mu!”

 

“…
Aku akan menjawabmu jika kau juga menjawab-Ku.
Apa pendapatmu tentang pasir?”

 

“…
Bukan apa-apa…
Tempat berpijak, mungkin.”

 

“Bagaimana dengan air laut?”

 

“… Asin.”

 

Tawa.

“Singkat dan jelas betul.
Bagaimana dengan matahari?”

 

“Menghangatkan pada saat tertentu, tapi membakar di waktu yang lebih sering.”

 

“Terakhir. Bagaimana dengan dirimu?”

 

“…
Diriku?”

 

“Ya. Apa pendapatmu?
Apa yang kau lihat pada dirimu?”

 

“…
Bukan apa-apa…
Gagal.”

 

“Oh ya?”

 

“Ya.”

 

“Aku tidak melihatnya seperti itu.”

 

“Mengapa?”

 

“Karena Aku adalah Aku.”

 

Kesal.

“Baiklah, apa maksudnya itu?”

 

Senyum, bangkit.

Kebaskan pasir dan kedip.

“Aku melihat Diri-Ku padamu.
Aku melihat Diri-Ku pada Adam.
Aku melihat Diri-Ku pada Kain.
Aku melihat Diri-Ku pada Yudas.
Itu cukup bagi-Ku.”

 

Nganga, ikut bangkit tanya segera!

“Tapi bagaimana dengan kegagalan kami?
Kami menghancurkan segala sesuatu!
Kami mengecewakan-Mu, bukan?
Setidaknya… Itu yang dikumandangkan di Rumah-Mu tiap Minggu!”

 

Senyum, semakin melebar.

“Begitukah?”

 

“Ya! Dikatakan bahwa…
Kami harus mengasihi-Mu dan segalanya.
Bahwa kami harus berapi-api melayani-Mu dan segalanya.
Tapi kuakui saja, aku gagal!
Kami gagal!
Selalu gagal, dan akan selalu begitu.”

 

Hela nafas, tatap menyendu.

Mendekat, mengulur.

“Dan di saat itulah, Anak-Ku.
Aku melihat Diri-Ku di dalammu.”

 

“Bagaimana bisa…?”

 

Senyum.

Terakhir.

Menunjuk.

“Karena Aku selalu di sana.”

 

Balik, dan pergi…

 

“T… Tunggu!
Tunggu! Satu pertanyaan lagi! Satu lagi saja!”

 

Henti.

 

Sengal.

“Me… Mengapa…
Mengapa kami selalu gagal…?”

 

Toleh.

Senyumkan masih.

“Kalian tidak gagal.”

 

“T… Tapi…”

 

“Karena Aku ada di sana.”

 

 

 

Seiring kepergian-Nya, tegun aku renung di sana.

 

Dan menyadari sesuatu…

 

Tunjuk-Nya…

Senyum-Nya…

Mata-Nya…

Tatap-Nya…

Hanya tuju pada satu dan satu dan satu.

 

Hati.

 

Mengapa manusia tidak gagal walaupun ia gagal?

 

“Karena Aku selalu di sana.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s