Monumen

Uap, Kawan…

Selamatkan aku dari uap…

 

Uap lenyap yang sesuap…

 

Menatap senyap dan merayap…

 

 

 

Mengapa rusuh sangat para hidup?

Ingin ini harus itu…

Panjang sini lebar situ…

 

Wah…

Samudera riuh gemuruh penuh.

Meminta tuntut menyerang perut.

 

Makan.

Kawah bawah dan sejarah.

 

 

Maksudku…

 

Mengapa tak ada tersadar?

 

Jauh atas gunung bumi,

jauh puncak bukit zaman.

 

Apa sisa dari Adam?

 

Onggok tinta simpang siur.

Kabar angin tulis tua.

 

Pahatan…

Gambaran…

 

Selain itu? Tiada.

 

 

Apa sia-sia, Kawan?

Apa takdir paksa jenuh kita?

 

Kekang badan cambuk rupa.

Budak masa semenjak purba!

 

Dari hidup lahirlah mati.

Jejak kosong menanda nama.

 

 

 

Apakah percuma?

 

Yang kemudian tiada akan mengingat-ingat.

Yang ‘kan datang tiada dapat mengerti hikmat.

 

Warisan datang, melayang pergi.

 

Ku pikir…

 

Percuma.

 

 

 

Tidak, Kawan.

Sama sekali tidak percuma.

 

Segala lupa bukan kutukan.

Lahirkan diam bukan juga hukuman.

 

Memang benar, dari nafas tersisa debu.

Tapi, Kawan,

Debu itulah pertanda riak.

 

Riak-riak ujung gejolak dahulu.

 

Tak usah risau siapa mengerti!

Tak usah pikir siapa mengenang…

 

Sang Pencipta menggenggam alir.

Alir sungai singkat sebut waktu.

 

Ujung satu terbuta, ujung yang lain terluka.

 

Tapi semuanya, baik.

 

Apa kau temui, Kawan, kerjakan saja.

 

Benar kata itu tinta.

Benar kata itu tua.

Benar kata itu tiada.

 

Tapi percaya, inilah kata-Nya.

 

Karya-karyamu, Pencinta,

menggema hidup suara ajar.

 

Hasil-hasilmu, Pematung,

menegak tanda menyebut angkatan.

 

Kisah-kisahmu, Penyair,

terindah kekal bagi yang akan.

 

 

Jadi, tenanglah…

Memang benar nafas akhir sisa debu.

 

Namun debu itulah…

Dasar awal ‘tuk mencipta…

Batu juru untuk yang baru…

 

Sisa debu kita, Kawan…

 

Bagi yang datang, adalah nafas dan gerak pembaru.

 

 

Dan ingatlah…

 

Walau jauhlah tidak,

tetap ‘kan bangga Kuasa berdecak.

 

“Baik sekali, hamba-Ku…”

 

“Sungguh baik dan setia perbuatanmu.”

 

 

Sungguhkah, Kawan…?

 

Benarkah kata-katamu itu?

 

Benarkah peninggalan tak sia-sia?

 

Bahwa karya tidak ‘kan gersang terlelap nyaman?

 

 

Jika tak yakin hatimu, lihatlah apa tertinggal Nazaret.

 

Galilea, Kana…

Tirus, Betsaida…

 

Yerusalem… Golgota.

 

Apa?

 

Kayu usang rusak darah.

Karya tinggi memuncak alam!

 

Jubah kusam terundi bagi.

Nama Kekal tertanam tetap!

 

Kubur kosong penanda uap…

Namun Kasih, bicara kuat zaman ke zaman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s