Menyimpang

Berapa banyak dari kita yang merasakan komplikasi serupa?

Tak terpisah, namun sekaligus tak tertahan akan satu kata yang menghantu umat manusia.

Kegagalan.

 

Berapa banyak dari kita yang muak, namun sama tak berdayanya untuk lari dari sana?

Lumpur hisap kehidupan, yang perlahan-lahan akan membawa pada kematian sempurna.

Jiwa dan raga.

 

Saat tangan dan diri ini dengan sadar memilih arah yang salah.

Saat hati menjerit dan batin meringkih.

Saat jiwa tertatih dan rasa tanpa meraih.

 

“Aku tidak mau memilih ini, tapi…”

“Aku sangat membenci hal ini, Tuhan juga, aku tahu, tapi…”

 

 

Dari tanda panah yang satu pada tanda panah yang lain.

 

Terbentur…

 

Sakit…

 

Gagal…

 

 

Dan kita, ketakutan, menolak untuk menengadah ke atas.

Dan kita, ingin tahu namun sangat tidak siap, bertanya-tanya.

 

 

“Apa yang Tuhan lakukan jika saya gagal?”

 

“Apa Yang Maha Tinggi rasakan saat saya gagal?”

 

 

Dan inilah jawabannya.

 

 

Tenang.

 

Ia tenang.

 

Seperti saat Ayub meraung putus asa.

Seperti saat Musa berlari kepada padang tiada.

Seperti saat Yohanes terhardik anak-anak guntur.

Seperti saat Petrus menggelepar di dalam gelora dan badai.

 

Allah Bapa Sang Pencipta tetap…

Tenang.

 

 

Mengapa bisa?

Yah, pertanyaannya bukan ‘Mengapa’, bukan?

Tapi ‘Bagaimana’.

 

Bagaimana jika kita meminjam kacamata-Nya sebentar?

Bagaimana jika kita mencoba, satu kali saja, menyelidiki segala sesuatu dari Tempat Yang Tinggi.

 

 

Bagaimana jika kegagalan kita Dia gunakan bukan untuk apa, tapi untuk mengingatkan kita?

Bahkan lebih lagi, untuk mengingatkan kita akan siapa Dia?

 

Bahwa Dia adalah Allah yang penuh belas kasihan.

Allah yang penuh kesabaran.

Allah yang penuh kedamaian.

Allah Maha Kuasa.

 

 

Bukankah ini berita baik?

Bahwa segala salah arah dan kebodohan,

segala kejatuhan dan kenaifan,

segala pelanggaran dan kekosongan…

 

Ia gunakan untuk mengingatkan kita…

 

“Aku, Nak. Aku, bukanlah kamu.”
“Bukan engkau, tetapi Aku.”
“Aku lah yang membentangkan langit, Aku juga yang mendirikan bumi.”
“Aku yang menurunkan hujan, Aku juga yang menghardik tubir laut.”

“Bukan engkau yang membawamu kembali.”
“Bukan kebaikanmu, bukan keberhasilanmu, bukan pelayananmu, bukan kekudusanmu.”

“Tangan-Ku, bukan tanganmu.”
“Mata-Ku, bukan matamu.”

 

 

“Kegagalanmu, takkan menggagalkan Aku, Nak.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s