Someday

Hmmh…

Indera penciuman selalu dikenal sebagai salah satu panah tertajam untuk membuka memori.

Ingatan, dengan lika liku dan kunci-kuncinya.

 

Dan di kota ini, di tempat ini…

Aroma khas dan beberapa gram daun teh olahan membawa kita kembali.

Kembali pada apa yang belum menjadi.

 


 

“Rame, gak?”

Polos, innocent, dan jelas sekali sangat ingin tahu.

 

Seruputan terakhir itu kembali terjun bebas pada kawanannya.

“Apanya?”

 

Smile.

“Ya ngajar lah. Rame, gak?
Pernah marahin murid?”

 

“Yaa pernah sih marah. Tapi nggak gimana-gimana amat.”

 

Goda.

“Emangnya Sir bisa marah?”

 

“Eits! Belom tau…”

 

 

 

And on, and on, and on

 

Seiring percakapan mendalam, rasa-rasanya aku juga sedang ikut tenggelam.

Nope, this isn’t me dramatizing things or fantasizing anything.

 

Di depan sana, tepat di depan sana.

Ada sepasang mata berbinar yang tampak melihat apa yang tak kuduga bisa dilihat.

Tatap-tatapnya bicara langsung jauh ke jiwa.

 

Dan saat itulah aku tahu aku temukan.

Hati sederhana yang sungguh-sungguh ingin menyelami rekam jejak kehidupanku.

 

Hahaha…

Sudah lama tidak begini…

 


“Kalau kelas 7 sih masih kecil-kecil.
Kepompong juga belom.”

 

Gelak hangat.

“Masa? Jadi apa dong kalo belom kepompong?
Ulet aja gitu?”

 

Kekeh.

“Yaa, gitu deh. Eh, tapi mungkin taun depan juga gue berubah pikiran.
Kids do grow up fast, you know.
Maybe puberty will strike them in the right time and BOOM! They’re all cool suddenly.”

Lirik di atas gelas, I’m gauging her expression before adding

“Tapi tetep nggak akan sekeren gurunya sih.”

 

Lepas lagi tawa itu.

Merdu tulus tak tertahan dari barisan salju per-gigian.

“Oh? Gitu ya, Sir? Jadi penasaran deh waktu Sir kecil kayak gimana.
May I take a look on some pictures?
I bet you have some in your album!

 

“No, no. No pictures for you.”

 

“What? Why?”

 

Dehem.

“First of all, I’m sure you’ll laugh your ass off me.
And second, it was not my brightest time.”

 

Pandang lagi, goda lagi.

“I see…
And by ‘not my brightest time’, you mean when you’re being a jerk and a playboy?”

 

Kernyit.

“Kok dipisah itu dua?”

 

Angkat bahu, angkat gelas.

“Yeah, as far as I know, you could be a jerk without having any woman beside you, so… Yeah.”

 

Saling pandang, tawa lagi.

Jujur, namun memikat.

Tanpa topeng.

Bebas.

 


Berkhayal memang tidak baik, namun bermimpi itu tak apa, ‘kan?

Setelah semua yang dialami, apa salahnya aku berbisik…

 

“Someday, Lord? Someday?”

 

 

And that small still voice echoes in my soul.

“Seek Me and you’ll find her.”

 

 

Senyum…

I believe in You…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s