Tenang

Biru…

Luas, dangkal pandangan…

Riak, riak, riak…

 

 

Aku tahu seseorang…

Sang Penakluk…

Tirani di zamannya!

 

Pedang riang di tangannya…

Tombak suka di dekatnya…

Perisai, ketopong, zirah…

Tinggi angkat, busur panahnya!

 

 

Lagi…

 

Biru… Luas…

 

Kaok tinggi mengatas langit…

Panas menyerang, terang menghambat…

 

 

Aku ingat legendanya…

 

Tanpa pasukan, sendiri saja…

Berani, tak mundur…

Terangkuh, tiada gentar…

 

Majulah Sang Penakluk!

Mengarung samudera mencekam!

 

Menjejak yang bisa dijejak,

Menyerang yang bisa diserang.

 

Kegelapan adalah mangsanya…

Dingin, lembap kesukaannya…

 

Tawa lengking tak kenal asa…

Kuku tajam tiada belas kasihan…

 

Sang Penakluk…

 

Bumi apa yang tak terjelajah?

Langit apa yang tak terceritakan?

 

Sungguh hebat ia…

 

Sayap-sayapnya penuh gurat kekejaman…

 

Pahlawan kotor, darah bersimbah…

 

Tanpa kediaman, tanpa kemegahan…

Kebinasaan ikut di ekornya…

 

 

 

Lalu… Siapa ini…?

 

 

Sederhana…

Tenang…

 

Tanpa semarak, tiada keagungan…

Tenang…

 

Langkah lembut, jamah sambut…

Dua belas, dua belas…

Tenang…

 

 

Jubah satu belai pantai…

Gurat senyum sudut mata…

 

Lelah, lelah…

Tenang…

Kuasa tak pudar…

 

 

Layani anak-anak domba…

Gembala…?

 

Ajari putra putri Bumi…

Guru…?

 

 

Tanpa mahkota, tidak ada lingkaran emas…

Ada di bawah, menabur Kata yang Hidup…

 

 

A…

Aku tak tahu kisahnya…

 

Tidak ada yang tahu…

 

Hanya samar-samar…

 

Awal dan Akhir…

Pusat dari Segalanya…

 

Apa yang Ia lakukan di sini…?

 

 

 

 

Di tepi biru riak, Ia berkata…

“Marilah kita bertolak ke seberang.”

 

Di seberang air luas, ia menggumam…

“Takkan kubiarkan kau tiba di sini.”

 

 

Dua belas, dua belas…

Polos tak tahu, bodoh tak adu…

Layar, jala, dayung…

Berangkat…

 

 

Angin, angin, angin…

Sang Penakluk memanggil kalian!

 

“DATANGLAH!”, serunya!

“DATANG DAN AMUKLAH!”

 

Sang Penakluk bergerak!

Geram dari takhta kegelapan!

 

Hitam teracung, pedang memancung!

Dua jiwa ditaruhkan!

 

 

BADAI!

BADAI!

BADAI!

 

 

 

Tenang…

Tidurlah ia…

 

Tak terganggu, tak terbangun…

 

Amuk dianggapnya buaian…

Hantam disebutnya kesempatan…

 

 

Dua belas, dua belas…

Mengapa rusuh menerka-nerka?

 

Hilir mudik ke sana ke mari!

Tangis jerit ludah jadi satu!

 

“BINASA! BINASA!”, pekik mereka!

 

 

 

Apa yang kalian tahu tentang binasa?

 

Dia tahu segalanya…

Dia tahu segalanya!

 

Segera! Tenang dan damai!

Bangkit! Hardik!

 

 

 

 

 

 

 

Dua Hilang didapat, badai pun mereda…

 

Anak Manusia tenang, berjalan dan nasehat.

“Pulanglah. Kabarkan apa yang dilakukan Maha kepada kamu.”

 

 

 

 

Apa itu sudah selesai?

 

Anak Manusia… Apa Engkau sudah selesai?

 

Badai ada di mana-mana…

Penakluk rajalela di atas tanah!

Merusak, mencuri, membinasakan!

 

 

 

Dua ribu, dua belas…

 

Tenang, sama…

Kuasa, sama…

 

Kata…?

Sama…

 

“Mengapa kamu takut?”

“Mengapa kamu tidak percaya?”

 

 

Dua ribu, dua belas…

Hatinya sama, jiwanya sama…

Sabar mencari, damai memberi…

Yang Hilang, dicari…

 

 

Mari anak-anak Adam, belajarlah…

Apa yang kita takutkan?

 

Sang Penakluk jatuh satu kali…

Dan tidak akan bangkit lagi!

 

Dia…

Dia yang sederhana kuasai semua…

 

Tenang, tenang, tenang…

Dia bersamamu…

Dia kasihimu…

 

Jangan takut…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s